lompat tinggi

Pengertian, Gaya dan Teknik Dasar Lompat Tinggi

Teknik Dasar Lompat Tinggi – Salah satu cabang atletik yang satu ini mewajibkan atletnya melakukan lompatan dengan setinggi mungkin melalui mistar tanpa menggunakan bantuan alat. Lompat tinggi adalah nama dari jenis olahraga ini.

Berbagai macam jenis gaya yang dibolehkan dalam olahraga ini adalah gaya gunting, guling straddle, guling sisi, dan juga flop. Ada juga gaya baru yang tak bertentangan dengan aturan internasional.

Dari empat macam gaya tersebut semuanya membuat para atlet lompat tinggi melakukan lompatan dari sisi kiri ataupun kanan untuk dapat meloloskan kaki dari halangan berupa mistar.

Tentunya hal ini berbeda dengan lompat batu tradisional di Nias yang tergolong dalam olahraga lompat tinggi. Sayangnya untuk lompat batu Nias termasuk dalam cabang atletik yang dilombakan di kancah olimpiade.

Akan tetapi sebuah upacara adat yang bertujuan untuk memberikan gelar dewasa pada anak laki-laki yang sudah berani melakukannya.

Sejarah Lompat Tinggi

lompat tinggi

Pertama kalinya sejarah lompat tinggi telah tercatat saat diadakannya olimpiade di Skotlandia ketika abad ke-19. Pada masa itu tercatat lompatan yang tertinggi telah dilakukan oleh atlet setinggi 1,68 meter.

Saat itu, gaya yang dilakukan adalah gaya gunting. Sekitar abad 20 gaya lompat tinggi di modernisasi dari seorang warga irlandia amerika yang bernama Michael Sweeney.

Tahun 1895 dirinya berhasil melakukan lompatan dengan ketinggian 1,97 m dengan gaya eastern cut-off, gaya tersebut mengambil off seperti gunting namun memperpanjang bagian punggungnya dan mendatar di atas bar.

Selanjutnya warga amerika lain yang bernama George Horine, telah mengembangkan teknik melompat dengan lebih efisien yang bernama Western roll. Dengan teknik ini Horine dapat mencapai lompatan dengan ketinggian 2,01 m tahun 1912.

Lompat Tinggi Pertama DI Olimpiade

lompat tinggi

Dalam olimpiade Berlin pada 1936, teknik lompatan ini jadi dominan dilakukan dalam cabang lompat tinggi. Dan telah dimenangkan oleh Cornelius Johnson dengan ketinggian lompatan 2.03 m.

Dalam empat dekade berikutnya, pelompat Amerika dan Soviet merintis evolusi dengan teknik straddle.

Charles Dumas merupakan orang pertama yang telah menggunakan teknik ini hingga menghasilkan lompatan dengan ketinggian 2,13 meter tahun 1956. Akhirnya Valerie Brumel mengambil alih pencapaian selama empat tahun kedepan.

Jumper Soviet ini telah mencatat ketinggian lompatan 2,28 meter. Dirinya berhasil memenangkan medali emas dalam olimpiade pada 1964. Sebelum akhirnya karirnya berakhir karena kecelakaan sepeda motor.

Dari Brumel para atlet kemudian mencoba belajar serta mengembangkan olahraga lompat tinggi sampai sekarang.

Sudah ada berbagai macam gaya yang ada dalam olahraga ini diantaranya adalah Scissors, Western Roll, gaya Fosbury Flop, dan gaya guling Straddle.

Walaupun event lompat tinggi telah diikutsertakan dalam kompetisi pada olimpiade kuno, namun kompetisi untuk cabang lompat tinggi tercatat telah berlangsung dari awal abad ke-19 di Skotlandia.

Pada masa itu, peserta memakai metode pendekatan langsung ataupun teknik gunting. Olahraga cabang atletik ini tidak dilakukan secara sembarangan.

Terdapat berbagai macam gaya yang harus dikuasai. Supaya peserta bisa terhindar dari cedera atau kecelakaan.

Gaya Lompat Tinggi

lompat tinggi

Di bawah ini merupakan empat jenis gaya yang terdapat dalam olahraga lompat tinggi yang sering digunakan oleh para atlet.

1.Gaya Guling Atau Teknik Straddle

Untuk gaya guling atau straddle menjadi gaya di mana badan melewati tiang dengan cara diputar dan kemudian dibalikkan.

Dengan begitu, sikap badan ketika diatas mistar dalam posisi tertelungkup. Cara mudah untuk bisa melakukan gaya guling yaitu dengan:

Pelompat harus mengambil awalan dari samping antara 3,5,7 hingga 9 langkah. Tumpuan berada pada kaki yang paling kuat. Selanjutnya diayunkan ke depan.

Sesudah kaki diayunkan, agar dapat melewati mistar dengan cepat, badan dibalikkan sehingga sikap badan berada diatas mistar dengan posisi tertelungkup.

Usahakan pantat lebih tinggi daripada kepala. Sehingga posisi kepala agar menunduk saat mendarat. Pakailah kaki kanan serta tangan kanan, bila tumpuan menggunakan kaki kiri dan begitu juga sebaliknya.

Teknik seperti ini dilakukan dengan cara mengambil jarak awalan yang diambil dari samping antara 4,6,8 ataupun 10 langkah. Ini tergantung dari ketinggian target yang hendak dilewati.

Bila anda menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan maka anda ayunkan kaki kanan ke belakang dengan tujuan kedepan.

Sesudah kaki diayunkan dan melewati mistar, lalu posisi badan ketika di udara atau di atas mistar berada dalam posisi tengkurap.

Posisi pinggang sebaiknya diusahakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi kepala. Saat posisi jatuh, tumpuan berada pada kedua tangan dan juga kaki.

Ayunan yang pertama kali mendarat lalu dilanjutkan dengan menggunakan badan yang pertama yaitu bagian punggung, tangan dan juga berakhir di bagian bahu.

Teknik awalan straddle

Ambil posisi ancang-ancang. Jangan terlalu jauh. Larilah dengan kecepatan sedang kemudian posisi awalan dari samping sekitar kira-kira 30 atau 40 derajat dengan posisi tiang lompatan.

Larilah agak serong dari mistar. Gunakan teknik tolakan straddle menggunakan tumpuan kaki yang memiliki sekat dengan mistar.

Saat melakukan tolakan, posisikan badan anda agar merubah ataupun sedikit condong ke bagian belakang.

Tumpuan kaki menolak ke atas sampai kedua lutut atau kaki lurus, dan 2 tangan serta kaki diayunkan dengan tenaga yang penuh ke arah depan.

Teknik diatas mistar

Badan dalam posisi tengkurap. Saat badan telah mulai turun, maka posisi kaki harus segera diluruskan ke arah belakang. Untuk teknik mendarat straddel bila menggunakan tumpuan kaki bagian kiri sebaiknya posisi pendaratan menggunakan kaki kanan lebih dahulu. Lalu dilanjutkan dengan gerakan posisi berguling.

2. Teknik Flop

Gaya yang telah diciptakan oleh Dick Ricarod Fosbury ini diadakan tahun 1968. Ia merupakan pelompat tinggi yang berasal dari Amerika Serikat.

Dirinya menggunakan gaya fosbury flop dan berhasil menjadi juara pertama. Sejak saat itu, ahli atletik banyak yang meneliti gerakan unik tersebut.

Keunikan yang dihasilkan dari gerakan fosbury adalah tubuh berada diatas mistar pada posisi yang terlentang. Kemudian jatuh menggunakan punggung masih tetap dalam kondisi terlentang.

Cara untuk melompati mistar menggunakan teknik ini yaitu kebalikan dari teknik straddle. Bila lompatan straddle berguling diatas mistar dengan posisi perut yang menghadap ke bawah mistar, namun sebaliknya.

Teknik flop dengan punggung yang menghadap ke bagian bawah dengan arah agak serong ke bagian kiri tidak lagi tegak lurus pada mistar.

Awalan dalam teknik flop

Pakailah kaki terkuat dalam tumpuan. Jika anda menggunakan kaki kiri, angkat dengan lutut kaki ditekuk bersamaan memutar badan dengan arah awalan.

Posisi badan membelakangi mistar. Punggung di bagian bawah yang dekat dengan mistar posisi punggung melengkung ketika melewati mistar.

Untuk teknik flop ketika di atas mistar anda bisa menggunakan bagian kepala yang harus lebih dulu melewati mistar. Selanjutnya posisikan badan anda dalam posisi terlentang.

Hadapkan punggung ke bawah arah mistar ketika mencapai ketinggian maksimal dan juga pinggang anda melewati mistar.

Posisi kan kedua kaki yang digerakkan atau diayun ke atas supaya dapat melewati mistar dengan sempurna.

Ketika mendarat, bagian tubuh yang digunakan untuk mendarat terlebih dahulu dengan teknik ini yaitu punggung.

Ini disebabkan karena sikap tubuh yang terlentang ketika mendarat. Dan teknik ini hanya bisa dilakukan dengan pendaratan dengan busa.

3. Gaya Gunting atau Scissors

Dalam lompat tinggi gaya gunting sering disebut juga dengan gaya Sweney. Sebelumnya saat tahun 1880 Mr. Swenwy memakai gaya jongkok.

Akan tetapi, ia merasa bahwa gaya tersebut masih kurang tepat. Sampai pada akhirnya ia mengubah gayanya menjadi gaya gunting.

Selanjutnya ketika tahun 1895 dirinya menciptakan gaya lompat tinggi lain yaitu gaya gunting samping.

4. Western Roll

Gaya guling sisi diciptakan dari Amerika tahun 1912 oleh G.Horine. Akan tetapi, gaya ini tidak bisa berkembang sebab ada benturan peraturan yang berlaku.

Saat melakukan lompat tinggi dengan gaya guling sisi ketika melewati mistar, maka posisi kepala akan cenderung lebih rendah dari pinggul.

Dengan demikian ini dinilai tidak sah, sehingga gaya ini tidak pernah dipakai dalam olahraga lompat tinggi.

Aturan Lompat Tinggi

Di dalam pertandingan olahraga lompat tinggi atau high jump mistar dinaikkan setelah peserta berhasil untuk melewati ketinggian mistar. Peserta harus melonjak dengan sebelah kaki.

Selain itu, peserta juga boleh mulai melompat dimana ketinggian yang ia sukai. Lompatan dinyatakan batal bila peserta telah menyentuh palang dan tidak bisa melompat.

Selain itu, menjatuhkan palang ketika membuat lompatan ataupun menyentuh kawasan mendarat jika tidak bisa melompat.

Peserta yang tidak berhasil melompat melintasi palang tiga kali berturut-turut, maka akan dikeluarkan dari pertandingan tersebut. Peserta lompat tinggi berhak untuk meneruskan lompatan.

Meskipun semua peserta lain gagal. Olahraga ini tidak disarankan untuk dilakukan dengan cara sembarangan. Atlet lompat tinggi perlu teknik tertentu supaya bisa melompat melalui mistar dan bisa mendarat dengan mulus tanpa cedera apapun.

Sehingga setiap atlet harus benar-benar menguasai gaya lompat tinggi dan jugBeberapa mistar untuk lompat a dinaikkan di akhir setiap babak atau ronde.

Hingga tinggal ada 1 atlet atau peserta lomba yang tersisa yang dapat memenangkan perlombaan. Atau terjadinya hasil sama untuk kedudukan yang pertama.

Latihan Pemanasan Dalam Arena Lomba

Di dalam arena perlombaan, sebelum dimulai acara lomba maka semua peserta lomba diperbolehkan untuk melakukan latihan praktek lomba.

Sekalinya perlombaan sudah dimulai, maka peserta lomba tidak diizinkan memakai sarana dan juga prasarana dengan maksud untuk latihan.

Seperti jalur ancang-ancang, atau area bertolak dan juga bertumpu, tidak boleh menggunakan peralatan lomba yang ada di arena perlombaan.

Lapangan Lompat Tinggi

Untuk sebuah lapangan lompat tinggi terbagi menjadi 4 bagian. Yaitu jalur awalan, daerah tolakan mistar, beserta penyangga, juga ada mata untuk mendarat.

Di bawah ini merupakan penjelasan selengkapnya mengenai lapangan lompat tinggi.

Jalur atau area awalan jalur ini dibuat dengan bentuk bujur sangkar atau bisa juga setengah lingkaran yang memiliki jarak tepi ke bagian titik pusat hingga 15 m.

Jarak ini adalah jarak minimal dalam melakukan awalan. Sehingga atlet berhak untuk melakukan awalan dalam area yang lebih jauh lagi selama tidak berlebihan pengambilan jaraknya.

Area tolakan ini merupakan area yang berada disekitar depan ataupun bawah mistar.

Area ini memang benar-benar harus dibuat dengan sedatar mungkin, tidak menggelincirkan atlet ketika melakukan tolakan dan berada dalam kondisi yang bersih.

Mistar untuk lompat tinggi dibuat dengan ukuran panjang antara 3,98 sampai 4,02 m yang memiliki berat maksimal sebesar 2 kg.

Mistar disangga dengan dua penyangga yang berada dalam posisi sejajar dan memiliki jarak yang sama. Dengan panjang mistar untuk tiang penyangganya minimal salah satunya mempunyai ukuran guna menentukan tinggi mistar.

Mistar harus ditopang menggunakan penopang mistar yang ada pada masing-masing tiang penyangga. Penopang mistar sendiri memiliki ukuran 4×6 cm.

Ukuran untuk tempat pendaratan adalah 3 x5 m ini dibuat dengan bahan busa yang memiliki ketebalan 60 cm. Serta untuk bagian atasnya tertutup dengan matras yang memiliki ketebalan 10 sampai 20 cm.

Sarana dan Prasarana Lompat Tinggi

Di dalam perlombaan lompat tinggi tidak ada alat bantu yang digunakan untuk melompat.

Akan tetapi pastinya dalam olahraga tersebut terdapat fasilitas yang berfungsi sebagai pengaman, yang dipasang guna menghindari cedera yang kemungkinan terjadi pada atlet lompat tinggi.

Yaitu berupa matras yang diletakkan pada bagian pendaratan tepat setelah mistar.

Awalnya lompat tinggi sebagaimana yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya dilakukan dengan media di atas tanah berumput. Tanpa menggunakan tambahan alas untuk mendarat.

Alhasil, banyak sekali atlet yang mengalami cedera dan tidak lagi dapat mengikuti pertandingan.

Oleh sebab itu, matras yang dibuat dengan menggunakan bahan busa dan bahan lain yang memiliki tekstur empuk wajib ada di dalam lapangan lompat tinggi.

Untuk mistar lompat tinggi merupakan bilah lompat yang dibuat dengan bahan kayu atau bahan lain. Mistar memiliki panjang 3,98 sampai 4,2 meter yang diletakkan dalam dua bilah penyangga.

Mistar dalam hal ini justru tangga penyangga mistar yang mempunyai ukuran sebagaimana penggaris ukur.

Walaupun mistar yang dipakai memiliki ukuran yang lumayan panjang ,yaitu dengan ukuran maksimal 4,2 meter, tapi berat maksimal harus digunakan hanya 2 kg.

Sehingga bahan untuk membuat mistar harus dipilih agar mendapatkan mistar yang ringan, tidak melengkung dan juga kuat. Mengapa beratnya maksimal harus 2 kg?

Hal ini karena, setiap pelompat yang akan melompati bilah mistar sering menyenggol serta menjatuhkan mistar. Dengan berat yang ringan bertujuan untuk mencegah terjadinya cidera saat melakukan lompat tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *